Citra dan Fakta LTE


Oleh : Hazim Ahmadi

Hari Minggu, 2 Mei 2010 kemarin di koran Kompas di kolom Seremonia, saya baca XL Axiata per 26 April 2010 menandatangani nota kesepakatan dengan penyedia perangkat Ericsson untuk mengkaji implementasi Long Term Evolution (LTE). Sedangkan Menkominfo beberapa waktu lalu menyatakan bahwa akan menunda lisensi LTE dan berharap operator mengoptimalkan 3G terlebih dahulu. Saya yakin Telkomsel juga menyiapkan keyword LTE ini dengan sungguh-sungguh untuk menandingi kedua pesaing terdekatnya itu.

Tidak dapat dipungkiri bahwa perang citra juga tengah dijalankan operator seluler tidak terkecuali the big three operators di Indonesia. Mereka berlomba untuk mencitrakan diri sebagai operator yang paling di depan sebagai pengambil dan penyedia cutting-edge technology seluler alias 4G. Bahwa pada faktanya masih dalam tahap kajian, sebagian besar orang tidak ngeh dengan keseluruhan kalimat, tapi yang jelas key word LTE sudah ditangkap pembaca. Bola salju operator X mengadopsi teknologi Y sudah menggelinding.

Beberapa waktu yang lalu saya menulis Dimana Frekuensi LTE yang mengundang beberapa komentar bersahabat dari pembaca. Mereka menanyakan mana yang potensi buat Indonesia, bagaimana operator CDMA melaju ke sana, dan lain-lain. Ya memang, LTE ini sebagai muara broadband di jaringan nirkabel adalah idaman para operator. Kalau toh pada kenyataanya belum ada bisnis yang bisa di-create dari jaringan canggih ini, itu adalah lain soal. Kalau pun spektrum frekuensi yang dialokasikan belum ditetapkan oleh regulasi itu pun juga soal lain.

Bagaimanapun juga teknologi tidak bisa dibendung oleh pemerintah yang perlu dilakukan adalah pengarahan. Statemen pemerintah untuk menunda lisensi LTE seharusnya tidak perlu dilakukan. Perencanaan regulasi sebaiknya dipersiapkan dengan baik karena adopsi teknologi tidak serta merta. Butuh waktu untuk introducing, inkubasi bisnis dan terciptanya bisnis selama masa menuju maturity teknologi. Dipersiapkan dengan teratur saja adopsi teknologi butuh waktu 3 sampai 6 tahun, apalagi ditunda.

Spektrum frekuensi di 2,6 GHz (atau 2,5 GHz) sebaiknya dialokasikan untuk alokasi LTE karena alasan popularitas di dunia. Telecommunication is about community. Banyak operator dan industri telco di dunia mendukung spektrum ini. Bila kita mengambil spektrum ini, maka ketersediaan perangkat menjadi lebih mudah didapatkan di pasaran baik perangkat infrastruktur maupun terminal, harga lebih murah dan isu interoperability lebih minim.

Telekomunikasi dapat diibaratkan jalan. Bila ada terbuka maka akses orang berkomunikasi menjadi terbuka. Efek dari telekomunikasi adalah ekonomi, edukasi, informasi, bisnis dan lain-lain menjadi lebih cepat berputar. Pada akhirnya itu semua akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional, tidak terkecuali penerimaan pemerintah dari sektor non pajak yaitu lisensi frekuensi di 2,6 GHz.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s