Ke Makassar (Lagi)


Oleh: Hazim Ahmadi

sultan hasanudin

Gambar Patung Sultan Hasannudin

Clarion Hotel, 29-06-2009

Terakhir datang ke kota ini tahun 1999 lalu, membuatku terkejut ketika melihat jalan Pettarani tadi sore. Seingatku waktu datang dulu, jalan ini masih gersang dan jarang terlihat pohon-pohon yang dapat digunakan untuk pensuplai oksigen dan peneduh kota pantai yang panas ini. Tapi sekarang keadaan benar-benar berbeda, di sekitar jalan terwsebut ditanami dengan pohon-pohon tanaman keras yang sudah rindang, trotoar yang lebar, jalan yang mulus, dan banyak bangunan tinggi baru muncul.

Welcome to Makassar!

Di sana-sini banyak terlihat baliho yang memasang gambar calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) peserta pemilihan umum presiden 2009. Jadi sadar kalau ini adalah kampung halaman JK alias Muhammad Jusuf Kalla, yang merupakan capres nomor urut tiga, satu-satunya kandidat yang berasal dari luar Jawa. Wajar kalau dukungan terhadap beliau terlihat dominan, biasanya peserta pemilihan mendapatkan suara mayoritas di daerah asal. (Tahun 1997, saya pernah datang ke kota ini menjadi peserta musabaqoh Al Qur an TELKOM, yang menyerahkan penghargaan kebetulan JK – fotonya juga masih tersimpan di rumah Klaten. Gak nyangka ternyata jadi orang nomor dua di RI dan calon RI-1).

Dua hari ke depan, saya insyaAllah akan melakukan drive test mengetahui performansi jaringan operator wireless di kota ini. Sembari menunaikan tugas mungkin ini kesempatan baik untuk melakukan eksplorasi kota dan budaya di sini guna menambah khasanah pengetahuan sosial tentang  masyarakat yang punya tradisi kuat dalam memegang prinsip ini.

Clarion Hotel Room 936, 2-07-2009

Selama dua hari kemarin aku kelilingi kota Makassar, sampai ke Gowa, menyusuri jalanan baik kelas 1 sampai kelas 3, melintasi jalan menuju bandara yang mulai padat dengan daerah bisnis, bandara baru, mengitari UnHas, melihat kemajuan di Panakkukang dan terakhir kemarin sore mengunjungi Tanjung Bunga. Satu komentar saya: impresif. Dimana-mana memang pembangunan fisik sedang dipercepat. Bahkan grup Bank Mega pun sudah mempersiapkan kantornya di Tanjung Bunga yang ukurannya cukup besar.

Satu hal yang paling menonjol dengan kota ini dibandingkan dengan kota lainnya di Indonesia adalah banyaknya konglomerat lokal (pribumi) seperti  Haji Kalla, Andi Sose, Grup Bosowa, Haji Asyik, La Tunrung dan lain-lainnya. Saya juga tidak melihat adanya jaringan mart kecil yang menggurita seperti di Jakarta, Bandung dan Solo, Alfamart dan Indomart tapi yang ada Trolley. Berarti kalau diberikan kesempatan, orang lokal pun dapat tampil menjadi tuan di negeri sendiri ya.

Kemarin juga nyempatin mengunjungi makam Pangeran Diponegoro yang sebelum meninggal diasingkan oleh Belanda ke kota ini. Makamnya disatukan dalam komplek pemakaman dirawat dengan baik oleh pemerintah dan dijaga oleh anak keturunan beliau. Dari buku tamu, terlihat daftar pengunjung seperti Riwajatmoe Doeloe, Fadli Zon dan anak-anak sekolah internasional yang sepertinya baru dua hari yang lalu.

Ok, selamat membangun kota Makassar!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s