Kemanakah mereka nanti?


Oleh: Hazim Ahmadi

Melihat jumlah mahasiswa salah satu sekolah tinggi di bidang telekomunikasi di Bandung yang sangat besar, saya bertanya-tanya; kemanakah mereka nanti akan berkarya. Anda tahu bahwa mereka dididik di bidang telekomunikasi. Sedang industri telekomunikasi di tanah air relatif sempit, tidak seperti di negara lain ambil contoh China, India, Korea Selatan, Jepang bahkan Malaysia.

Yang saya tahu industri telekomunikasi di Indonesia hanya operator, pabrikasi, software aplikasi dan pekerjaan teknik lapangan seperti sub pekerjaan instalasi, kontraktor menara, dan lain-lainnya. Di pos pemerintahan profesi yang dapat menjadi tujuan lulusan ini ada, tetapi sangat sedikit diantaranya di regulator, peneliti ataupun di badan-badan pemerintahan.

Okelah kalau operator di kita cukup banyak, yaitu 12 operator. Namun jumlah pegawai mereka hingga saat ini, diperkirakan sudah terpenuhi dari yang dibutuhkan.  Apalagi hampir di semua perguruan tinggi terkenal baik negeri maupun swasta sekarang juga mempunyai jurusan teknik elektro. Dan lulusan-lulusan itu pun berebut masuk ke operator.

Untuk pabrikasi atau vendor telekomunikasi, sangat sedikit, untuk tidak mengatakan tidak ada. Mengapa dikatakan tidak ada, karena kenyataanya banyak pabrikasi perangkat telekomunikasi di kita masih order sub sistem utama seperti IC dari luar, misalnya dari China dan Singapura.  Di Indonesia baru diasembling (dirakit) menjadi perangkat utuh. Paling banter di kita adalah men-desain chip sesuai kebutuhan dan setelah itu pesan ke luar. Hal ini terjadi karena di Indonesia belum ada industri chip. Dulu pernah ada, tapi karena bukan pabrik yang padat karya, akhirnya (diusir) pindah ke Malaysia.

Industri pekerjaan teknis yang selama ini melakukan jasa konstruksi dan instalasi telekomunikasi memang banyak tumbuh dan berkembang. Namun kenyataannya nilai ekonomis dari industri itu sangat kecil dan low level bila dibandingkan dengan industri pabrikan. Sedangkan industri software belum juga menunjukkan kabar gembira, walaupun boleh dikatakan banyak yang melek dengan teknologi ini.

Anda dapat berhitung kalau setiap semester sekolah tadi meluluskan siswa (mewisuda) sebanyak 500 orang, berapa banyak dalam lima tahun. Berapa banyak mahasiswa dengan keahlian yang sama untuk satu Bandung? Lalu jumlah lulusan untuk seluruh Jawa Barat? Untuk seluruh pulau Jawa? Untuk seluruh Indonesia?

Indonesia dengan 12 operator dapat dikatakan mempunyai iklim kompetisi telekomunikasi yang tidak sehat. Yang terjadi adalah strategi perang tarif. Pasar yang ada sudah mendekati saturasi, sehingga perang tarif tadi hanya memindahkan satu customer dari satu operator ke operator lainnya. Nilai investasi telekomunikasi secara nasional menjadi tidak ekonomis. Begitu pula sumber daya nomor, sumber daya frekuensi, infrastruktur dan sumber daya lainnya. Seperti di industri penerbangan, suatu saat jumlah operator ini akan berkurang, sehingga jumlah orang yang bekerja di operator pun berkurang. Artinya daya serap terhadap lulusan teknik telekomunikasi tadi juga berkurang di operator.

Memang idealnya sudah saatnya Indonesia memikirkan untuk mempunyai industri telekomunikasi di bidang pabrikan. Ini tidak gampang, tapi juga bukan suatu hal yang tidak mungkin. Karena kita punya semua resourcesnya. Harus segera dipikirkan pabrikan chip yang memungkinkan kita bisa membuat sendiri chip set untuk handset, untuk bts, untuk perangkat telekomunikasi, untuk komputer PC, untuk komputer notebook dan segala macam keperluan hingga chipset untuk mesin jahit.

Apa yang membuat alasan diatas kuat, karena banyak lulusan teknik elektro yang bisa berkecimpung di industri tersebut. Dengan sistem perusahaan yang baik dan dukungan pemerintah baik dari sisi peraturan maupun perizinan niscaya bisa direalisasikan. Dan akhirnya tanda tanya saya mengenai kemana mereka nanti dapat terjawab. Yang lebih penting lagi adalah belanja capital expenditure operator telekomunikasi yang sangat besar selama ini tidak akan lari ke luar negeri tapi tetap berada di Indonesia sedangkan banyak orang terdidik kita juga tidak mencari pekerjaan di negeri orang lain, tapi memajukan bangsa ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s