Kunduran Truk


Bahasa dapat digunakan untuk menunjukkan suatu umur bangsa yang menggunakannya. Iya nggak sih? Makin tua suatu bahasa makin tua bangsa tersebut makin tua budaya tersebut. Bahasa Indonesia lahir bersamaan dikumandangkannya Sumpah Pemuda tahun 1928. Dapat disimpulkan bahasa Indonesia lebih muda dibanding bahasa-bahasa daerah yang digunakan oleh suku bangsa sebelum bersatu. Karena masih muda, maka banyak kosa kata yang berasal dari serapan bahasa lain. Padahal katanya bahasa Indonesia itu berasal dari bahasa Melayu di daerah Riau.

 

Bahasa dapat digunakan untuk mengetahui kebiasaan budaya bangsa penggunanya. Misalkan budaya bangsa China. Mereka menganggap makan adalah suatu prioritas dalam kehidupan. Ketika pertama bertemu sebagai bahasa basa-basi semacam kalau kita mengatakan ”Gimana kabarmu?”, mereka justru mengatakan, ” Ni chi fan le ma?”. Apa kamu sudah makan? Mungkin kebanyakan dari bangsa di dunia ini akan mengatakan assalam…, salam, shalom, anyeong haseyo, halo, dll.

 

Namun bahasa juga mengalami gradasi arti. Di Bandung ini, orang Sunda yang sedang kongkow-kongkow sering nawarin yang kebetulan lewat, ”ngopi heula jang!”. Kalau kita ikut gabung di sana, pasti akan bingung, karena tidak menemukan kopi, tapi yang ada biasanya malah teh dan kue-kue lainnya. Arti ngopi di sini bukan berarti minum kopi, tapi duduk-duduk sambil makan minum bersama ngariyung.

 

Kembali ke awal tadi bahwa umur bahasa itu hampir sama dengan umur bangsa. Banyak bahasa lain terserap dalam bahasa Indonesia. Kata seperti wajah, selamat, berkah, khabar aslinya dari Bahasa Arab. Kata relasi, institusi, versi, populer, gradasi aslinya dari Bahasa Inggris. Bengkel, papsmeer, taplak (tapelaken), dan masih banyak lagi aslinya dari Bahasa Belanda. Graha, satya, dharma, budi dan lain-lainnya aslinya dari Bahasa Sanskerta.

 

Karena masih muda kadang Bahasa Indonesia tidak mampu menterjemahkan suatu kalimat yang diucapkan dalam bahasa daerah. Ini menyulitkan ketika suatu karya sastra dialihbahasakan. Kalimat Bahasa Jawa,”Kunduran truk” tidak dapat dialih bahasakan ke Bahasa Indonesia dengan pas. Contoh lain adalah ketika ada tamu mau rapat ke kantorku. Karena semua pintu akses masuk ke ruangan kantor di lantai 3 terkunci otomatis dan hanya dapat dibuka dengan kartu pegawai maka tamu tadi nelpon minta dibukakan pintu. Kebetulan ada dua pintu akses Timur dan Selatan. Si temanku ini balik nanyanya begini,”kamu masuknya keluar mana?” Yang ada di sana tambah bingung. Maksud temanku itu sebetulnya dalam Bahasa Jawa dia ingin mengucapkan,”awakmu mlebune metu ngendi?”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s