Memahami Definisi Haji Mabrur…


Oleh: Hazim Ahmadi

Pada musim haji tahun 2009 yang lalu, kebetulan saya bersama istri dan ibu berangkat melaksanakan haji ke tanah suci Mekkah. Sehabis hari Arafah, 9 Dzulhijah 1430H yang bertepatan dengan tanggal 26 November 2009, kami mabit di Mina. Setiap selesai melaksanakan shalat Shubuh dan Maghrib diadakan khutbah Mina. Di suatu kesempatan Ust. Jalaludien Asysyatibi menunjuk saya memberikan khutbah sehabis shalat Shubuh. Dan ini isi khutbah yang waktu itu saya sampaikan untuk dishare di sini.

Segala puji bagi Allah SWT yang telah mewajibkan ibadah haji bagi hamba-hambaNya ke Baitullah Al Haram bagi yang mampu dan memberikan balasan surga dan ampunan bagi yang mendapatkan haji yang mabrur.

Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan contoh pelaksanaan ibadah haji bagi kita semua, semoga tercurah pula kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti ajarannya dengan kebaikan. Amma ba’du.

Banyak orang menafsirkan bahwa haji mabrur adalah haji yang ditandai dengan kejadian-kejadian aneh dan luar biasa saat menjalani ibadah tersebut di tanah suci. Kejadian ini lalu direkam sebagai suatu pengalaman ruhani yang paling berkesan. Bahkan kadang ketika seseorang sering menangis dan terharu dalam berbagai kesempatan itu juga dianggap sebagai tanda haji mabrur. Padahal haji yang mabrur bukan seperti itu.

Dalam buku Al Ihya Ulummuddin karya Imam Ghazali yang disarikan dalam buku Tazkiyatun Nafs (Membersihkan Diri) oleh Said Hawa dalam bab Haji disebutkan bahwa haji adalah salah satu cara/jalan untuk mensucikan diri. Mensucikan diri baik secara dhahir maupun batin sangat penting terutama bagi setiap muslim, karena kesucian adalah jalan untuk mendapatkan ridha dari Rab, Tuhan Pemilik Alam Semesta. Ketika Allah ridha maka jalan rahmat seorang muslim menjadi terbuka menjadikannya jiwa yang tenang. Jiwa yang tenang inilah yang nantinya dipanggil oleh Allah SWT seperti dalam Al Quran surat Al Fajr di ayat-ayat terakhir, “Wahai jiwa-jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu  dengan ridha dan Allah pun me-ridha kalian. Masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaku dan masukklah ke dalam surgaKu.” Jadi tiket seorang masuk ke dalam surga (jannah) bukan dari amal ibadahnya tetapi dari rahmat Allah semata. Sedangkan amal ibadah yang dilakukannya hanya sebagai jalan untuk mendapatkan rahmatNya.

Ketika Nabi Muhammad SAW ditanya oleh sahabat mengenai definisi haji mabrur, maka Nabi SAW menjawab,” haji mabrur itu adalah ucapan yang baik dan memberi makan (sedekah).” Ucapan yang baik adalah manifestasi orang yang beriman sebagaimana disampaikan oleh Nabi bahwa hendaknya kita berkata yang baik atau diam. Ucapan yang baik adalah ucapan yang bermanfaat, bukan omong kosong yang tidak ada gunanya apalagi ucapan yang memberikan mudharat kepada orang lain, seperti yang disebutkan dalam Al Quran surat Al Mu’minun ayat ketiga. Ucapan juga merupakan indikasi isi hati seseorang, bila isi hati seseorang baik maka yang keluar adalah ucapan yang baik dan sebaliknya apabila isi hati seseorang buruk maka yang keluar dari mulutnya adalah ucapan yang buruk pula. Naudzubillahi mindzalik. Mungkin ini sebagai salah satu jawaban mengapa di dalam pelaksanaan haji ketika mengenakan baju ihram kita tidak diperbolehkan melakukan raffas (membicarakan seputar sex, hal-hal yang vulgar, dll), jidal (berbantah-bantahan) dan fusuq (ucapan yang mengakibatkan dosa).

Memberi makan (sedekah) adalah dimensi sosial dari nilai haji. Bahwa haji sebagai rukun Islam kelima mencakup nilai-nilai yang ada pada rukun-rukun Islam sebelumnya, yaitu melingkupi aspek ibadah (shalat), aspek kemampuan (puasa dan zakat) dan aspek sosial (zakat). Kita pernah mendengarkan cerita ulama terdahulu yang mimpi setelah selesai melaksanakan ibadah haji. Di dalam mimpinya itu dia mendapatkan informasi bahwa tidak ada satupun dari jamaah haji tersebut mendapatkan predikat haji mabrur. Namun dari mimpi tersebut dia mendapatkan informasi bahwa salah satu tetangganya yang menjadi tukang sol sepatu di kotanya malah mendapatkan haji mabrur. Penasaran dari mimpinya, ulama tersebut pulang ke kotanya dan mencari tukang sepatu haji mabrur tersebut dan menanyakan apa yang telah dia lakukan sehingga di dalam mimpinya dia menjadi haji mabrur. Ternyata tukang sol sepatu tersebut sebetulnya telah menabung lama dan berniat haji, namun karena salah satu tetangganya mengalami kesusahan maka uang hasil tabungan tadi dia sumbangkan.

Demikian disampaikan khutbah ini, wa Allahu a’lam bishshawab.

2 thoughts on “Memahami Definisi Haji Mabrur…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s