Pedoman Menggunakan “Handycam”


Oleh: Rony simanjuntak

Bukan saja kamera digital yang keberadaannya semakin familiar saja bagi masyarakat di kota-kota besar, perangkat rekam gambar bergerak yang bernama handycam atau camcorder pun demikian. Apalagi produsen camcorder dunia saat ini semakin gencar meluncurkan produk-produknya dengan harga yang relatif tidak mahal-mahal amat. Untuk tipe camcorder low end misalnya dapat dimiliki dengan mengeluarkan isi kocek tiga sampai tiga setengah juta rupiah. Tidak heran jika sekarang ini di mana ada pesta (perkawinan, ulang tahun dan hiburan keluarga) tidak sedikit orang yang mengusung camcorder.


Meski demikian, pemilik camcorder, mayoritas tampaknya hanya sebatas “nafsu”. Hanya mengikuti tren saja, belum dibarengi keterampilan bagaimana membuat alunan gambar bergerak itu enak ditonton. Jika Anda pun termasuk salah seorang yang juga hobi mengabadikan berbagai peristiwa dalam kehidupan Anda, tidak salah bila sebelum memutuskan untuk membeli camcorder membaca tulisan ini. Sehingga kelak mempunyai pedoman bagaimana membuat rekaman video dan tidak sekadar ikut-ikutan.

 

Pedoman

Satu hal yang harus Anda jadikan pedoman bila ingin membuat rekaman video, baik mengenai upacara pernikahan, suatu event pertandingan, maupun acara liburan bersama teman atau keluarga; yaitu: tetapkanlah adegan yang akan anda rekam. Lalu kembangkanlah tema tersebut. Berusahalah untuk membagi-bagi kejadian tersebut menjadi serangkaian bidikan atau serangkaian kejadian yang berurutan sehingga penonton dapat ikut mengalami atau ikut merasakan kejadian tersebut.


Dalam The Video Maker’s Handbook, seperti dikutip Sugih Adibahari, disebutkan, untuk membuat rekaman Anda menarik secara visual, Anda harus membidik urutan kejadiannya dengan berbagai jenis atau ukuran bidikan. Bila Anda mengubah atau memotong di antara dua bidikan yang berurutan, berilah sisipan bidikan. Hal ini di dunia sinematografi lazim disebut sebagai intercut tetapi dengan ukuran bidikannya berbeda cukup mencolok dan sebaiknya juga dari dua sudut bidik yang berbeda. Sebab bila kedua bidikan tersebut Anda lakukan dengan ukuran dan sudut bidik yang sama, maka objek akan terlihat seolah-olah melompat (jumping) di dalam adegan tersebut.


Misalnya anda membidik seorang balita yang sedang digendong sang ayah. Mula-mula Anda bidik si balita yang sedang tersenyum secara close- up, lalu berhenti sejenak (mungkin sambil menunggu ekspresi si balita selanjutnya). Sesudah itu Anda mulai membidik lagi, kali ini juga secara close-up. Hasil yang Anda dapatkan adalah terjadinya suatu lompatan yang mengganggu antara bidikan yang pertama dan yang kedua. Hal ini terjadi karena si bayi telah berubah posisi dan ekspresinya selama Anda berhenti membidik.


Untuk menghindari lompatan akibat pemotongan (jump-cut) seperti itu, Anda dapat mengubah bidikan yang kedua. Misalnya menjadi suatu medium shot tentang pelukan hangat si ayah terhadap anaknya. Atau ubahlah sudut bidiknya, dimulai dengan bidikan tiga-perempat wajah si bayi kemudian membidik profilnya. Kedua cara ini memberikan keuntungan tambahan dalam menyembunyikan perubahan kecil pada objek. Usahakanlah untuk mengkombinasikan perubahan ukuran bidikan dan sudut bidik Anda!


Anda juga perlu mengantisipasi adegan yang selanjutnya diharapkan oleh penonton. Sikap ini akan sangat menolong Anda dalam menyajikan alunan yang wajar dari rangkaian bidikan Anda. Membidik objek atau subjek yang saling melengkapi akan membantu terciptanya alunan tadi. Sudut bidik yang berlawanan arah menciptakan kesinambungan bidikan yang sangat berharga. Demikian pula bidikan-bidikan berdasarkan arah pandangan. Misalnya bidikan tentang beberapa orang yang sedang menunjuk ke langit diikuti dengan bidikan yang diambil dari sudut pandang mereka, mengenai apa yang mereka lihat – detik-detik sebelum sebuah pesawat udara jatuh, misalnya.


Membidik suatu kejadian yang panjang dalam satu bidikan yang panjang agaknya memang kurang seru, malah mungkin sangat membosankan. Menunjukkan hal-hal yang penting saja akan lebih menarik bagi kita dan kemudian menggabungkannya akan merupakan suatu tantangan tersendiri. Suatu cara yang wajar dan mudah adalah dengan memanfaatkan fasilitas fade in/out yang terdapat pada hampir semua perangkat camcorder. Tetapi ada juga cara-cara lain yang lebih kreatif. Anda dapat melakukan pemotongan (cut-away) dan penyisipan (cut-in) dalam menggabungkan bidikan-bidikan Anda untuk menjembatani kesenjangan yang tercipta akibat perubahan gerakan, posisi, atau selang waktu.


Anda dapat membidik sebuah kapal yang bergerak perlahan mendekati pelabuhan. Potong bidikan tersebut dengan mengalihkannya kepada orang-orang yang sedang menanti di dermaga pelabuhan. Potong lagi, dan bidiklah kembali kapal yang sedang ditambatkan.

Posisi yang terakhir ini akan terlihat wajar karena pemotongan bidikan tadi seolah-olah telah memberi waktu yang cukup pada kapal untuk berada pada posisinya yang baru.

Adegan ini dapat anda lanjutkan sebagai berikut; potong rekaman dengan membidik wajah seorang gadis yang mengekspersikan penantian. Pindahkan lagi bidikan ke arah para penumpang kapal yang sedang turun dari kapal. Lalu sisipkan suatu detil, misalnya bidikan close-up pada wajah yang penuh senyum dari salah seorang penumpang, diikuti dengan suatu bidikan vario pada sang gadis yang sedang berdiri dilorong penjemputan.


Di sini, pemotongan dan penyisipan bidikan telah mengarahkan perhatian penonton kepada kejadian berikutnya, tanpa menyebabkan penonton kehilangan orientasi dan sekaligus memberikan kesempatan kepada Anda untuk mengubah sudut bidik kamera. Suatu kejadian yang sebenarnya terjadi dalam waktu satu jam, telah dirangkum dalam enam bidikan sederhana dengan transisi yang tak kentara, antara berbagai kejadian dalam waktu dan tempat yang berbeda. Untuk memberi kesan yang menyakinkan, bidikan-bidikan tersebut perlu dipertahankan paling tidak selama tiga detik supaya penonton dapat menangkap atau menghayati suatu adegan.


Membuat suatu rekaman video yang baik mencakup penguasaan atas berbagai aspek yang memberi kesan visual, seperti arah pergerakan gambar dan arah pandangan mata. Hal ini juga mencakup menciptakan aliran visual dari penggabungan bidikan dengan cara pemotongan dan penyisipan.


Kuncinya adalah anda harus berpikir secara visual, bukan memperhatikan setiap bidikan secara sendiri-sendiri melainkan sebagai suatu rangkaian dari berbagai gambar yang efektif yang mengembangkan kesan atau perasaan tertentu terhadap objek. Dengan melatih diri, sikap Visual Literacy ini akan berkembang menjadi suatu pembawaan Anda. Selamat berlatih.

 

“Bung Rony Simanjuntak, mohon izin untuk sadur artikelnya.”

3 thoughts on “Pedoman Menggunakan “Handycam”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s