WiFi Everywhere…

Oleh: Hazim Ahmadi

Tren layanan pita lebar melalui jaringan nirkabel meningkat akhir-akhir ini karena berkembangnya Web 2.0, murahnya smartphone, social networking, perubahan budaya dan segala macam perubahan. Jaringan seluler dengan teknologi 3G nya, baik dari kelompok 3GPP maupun 3GPP2 pada kenyataannya tidak mampu mengakomodasi permintaan pelanggan. Boleh jadi di sudut kota besar jaringan 3G tersedia, namun dari segi kapasitas hanya mampu melayani pada waktu-waktu sepi seperti pagi subuh atau tengah malam, tidak pada waktu lainnya. Dari segi cakupan jaringan 3G hanya mampu menjangkau pelanggan di luar ruangan, namun mengalami gradasi penurunan kualitas sinyal yang hebat ketika memasuki ruangan apalagi di dalam gedung-gedung perkantoran, apartement atau hotel.

http://speedy-broadband.blogspot.com/2009/04/telkom-hotspot-in-pemalang.html

Menggelar 3G di segala tempat adalah berat bagi operator terutama dari segi site acquisition (sitac), penyediaan backhaul, dan biaya sewa frekuensi. Sitac adalah banyak isu di luar isu teknik, tetapi lebih pada isu sosial. Backhaul yang dapat menghubungkan base station (Node B) dengan jaringan core paling handal adalah jaringan kabel, namun tidak selalu tersedia ketika operator menginginkan. Sedangkan backhaul menggunakan radio gelombang mikro sudah sangat sesak terutama di dalam perkotaan sehingga sulit untuk pengaturan. Biaya sewa frekuensi 3G sudah mafhum bagi semua orang, sangat mahal, hingga sekitar 54 Milyar rupiah per tahun. Bandingkan dengan biaya sewa frekuensi untuk siaran televisi free-to-air (FTA).

WLAN yang sudah biasa digunakan solusi bagi lingkungan rumah dan kantor bakal punya masa depan yang menjanjikan. Standar IEEE 802.11 series sekarang banyak dilirik oleh operator telco untuk menjadi solusi bagi penyediaan layanan pita lebar. Kalau semula WLAN hanya digelar dalam skala kecil, maka untuk layanan umum harus digelar secara kelas operator. Segi kapasitas misalnya satu access point WLAN harus dapat menyediakan sesi beberapa pengguna baik dari satu operator maupun beberapa operator (berakibat pada kebutuhan jumlah SSID). Dari sisi manajemen, AP dari WLAN harus dapat dikendalikan oleh operator secara remote untuk mengetahui performansi AP tersebut.

Operator dapat menggunakan skema layanan berbayar maupun free. Misalnya di beberapa negara yang mengimplementasikan seperti di Swiss dimana menggunakan tiga kanal, yaitu dua kanal untuk free dengan bandwidth yang kecil sehingga aksesnya lambat disertai iklan dan satu kanal yang berbayar tetapi dengan kecepatan yang tinggi. Ternyata skema layanan seperti ini berjalan sukses.

Layanan WLAN kemungkinan digelar tidak seperti jaringan seluler, tetapi hanya di daerah atau area yang padat (hotspot). Jadi persyaratan hand off tidak terlalu penting di sini, yang penting di area publik tersedia jaringan WLAN sehingga orang yang sedang berada di area itu dapat melakukan akses layanan Internet. Selain itu WLAN yang ada di hotspot ini dapat dijadikan layanan off loading jaringan seluler. Pelanggan seluler yang sedang akses layanan data di jaringan seluler yang kebetulan berada di area hotspot WLAN ini dapat dipindahkan ke jaringan WLAN. Jaringan seluler ini tentunya punya perjanjian roaming dengan penyedia jaringan WLAN ini terlebih dahulu.

Jadi bersiaplah dengan WLAN everywhere. WLAN yang sering disebut Wireless Fidelity (WiFi) bakal digelar di mana-mana (hotspot area). WiFi Everywhere….

1 Comment

Filed under Wireless Technology

TD-LTE Makin Populer?

Oleh: Hazim Ahmadi

Implementasi LTE akan sangat mempertimbangkan beberapa hal, diantaranya adalah ketersediaan spektrum yang sudah dimiliki operator. Mengapa karena kemungkinan besar harga bandwidth spektrum yang harus sediakan akan efektif bila lebih besar atau sama dengan 10 MHz. Sedangkan Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi kepada pemerintah juga mahal. Masih ingat ketika 3G dulu. Di sisi lain spektrum yang masih tersisa lebar ada di kisaran 2,6 GHz. Ini tentu solusi yang baik untuk operator karena akan dibutuhkan investasi yang tinggi karena untuk menutup cakupan yang luas dibutuhkan jumlah BTS yang tidak sedikit.

WiMAX yang semakin hari semakin berkurang pendukung, bisa jadi, suatu saat pemegang spektrum akan berpindah ke lain hati, yaitu ke LTE. Ini seperti yang terjadi pada operator Yota (Rusia) dan ClearWire (US). Bukan sesuatu yang mustahil, mengingat ekosistem yang dibangun platform LTE lebih siap dan berjalan mulus.

Namun berbeda dengan LTE arus utama (mainstream) yang menggunakan pembagian frekuensi berbasis FDD, operator pemegang spektrum WiMAX nantinya akan menggunakan LTE yang berbasis Time Duplexing atau TD-LTE. Dua negara raksasa China dan India, dengan jumlah pelanggan potensial, juga telah memutuskan masuk ke TD-LTE. Jadi sekitar 54% pelanggan potensial justru akan menggunakan TD-LTE dibanding FDD LTE yang diusung oleh operator-operator besar namun dengan jumlah pelanggan yang tidak lebih besar dibanding kedua raksasa tadi.

Seperti yang dikabarkan Telecom.com edisi 30 Maret 2011, ternyata beberapa operator di negara maju Eropa yang semula meyakini FDD LTE berpikir untuk pindah arus juga. Operator tersebut adalah Hi3G di Swedia bergandengan tangan dengan ZTE mengklaim akan melaksanakan trial jaringan LTE TDD/FDD dual mode. Jaringan ini akan digelar di Swedia dan Denmark yang menjanjikan kecepatan data hingga 100 Mbps. Operator Hi3G mempunyai bandwidth 500 MHz di Swedia dan 25 MHz di Denmark.

ZTE and Swedish operator Hi3G are partnering to launch what they claim will be the world’s first LTE TDD/FDD dual mode networks.  ZTE will provide the kit for the rollout, which will take place in Sweden and Denmark. As part of the deal, ZTE will also be involved in the upgrade of the operator’s 3G network.

1 Comment

Filed under Wireless Technology

Ofcom to limit UK 4G spectrum auction

By Pamela Weaver

UK regulator Ofcom has announced that it will begin the auction of 4G spectrum in the 800MHz and 2.6GHz ranges during the first quarter of 2012. In a move that will draw mixed responses, the regulator has decided to impose strict caps on the amount of spectrum any one bidder can acquire. Ofcom said that: “There would be significant risk to national wholesale competition if there were fewer than four national wholesale competitors with credible spectrum portfolios for providing higher quality data services.” Such a move is likely to please the market’s smallest carrier, 3UK. Earlier this month, 3UK chief Kevin Russell had called on Ofcom to impose caps on spectrum allocation below 1GHz of bandwidth, saying that the telco ran the risk of being pushed out of the market if it was unable to secure LTE spectrum in next year’s auction. Ofcom has said it will impose minimum as well as maximum caps and will discount “any auction outcomes in which four companies do not win the minimum amount of spectrum necessary to provide higher quality data services.” No one bidder will be allowed to obtain overall holdings of 2x105MHz. In addition, a sub 1GHz cap of 2×27.5MHz will also be imposed. Ofcom will also require a coverage obligation for one of the 800MHz licences; the winner of that bid will have to offer mobile services covering 95 per cent of the UK population by 2017. According to Ofcom, the auction will sell off the equivalent of three quarters of the mobile spectrum in use today and 80 per cent more than 2000’s 3G sell off. Ovum analyst Matthew Howett has described Ofcom’s proposals as “highly ambitious”, adding that the auction plans could be set back by as much as 12 months should any operator challenge the final outcome. “The use of spectrum caps is bitterly controversial as they effectively distort what is otherwise a market mechanism designed to allocate spectrum to those who value it most,” said Howett. “However, Ofcom is stuck between a rock and a hard place: if they were to leave the auction open, they risk a player leaving the market and further consolidation, possibly to the detriment of customers.” Howett added that while the forthcoming auction “will be the most significant for at least a decade”, we are unlikely to see anything like the £22.5bn bid almost a decade ago. “A lot has moved on since then, including the industry’s expectations of revenues from such data services,” he said. Given that the new licences could be indefinite in duration and not be revoked for spectrum management reasons for at least 20 years, Howett said that the importance of getting things right now should not be overestimated. “Operators are likely to focus their response around the assumptions Ofcom has made on the minimum amount of spectrum needed to support the services they are planning to launch and the overall caps they imply.”

Leave a Comment

Filed under Wireless Technology